selamat datang di stase jiwa

sudah 1 minggu ini saya dan teman kelompok saya masuk ke stase jiwa. stase "beda" dari stase-stase lainnya. kenapa ? karena pada stase ini lah saya merasa jadi manusia yang paling manusiawi, satu pasien satu jiwa, beda pasien beda pendekatan beda pula perlakuan.
seperti yang saya alami, di minggu pertama  saya masuk ke bangsal khusus perempuan. sebut saja Ny. Yani (nama samaran pastinya..:D. sekilas tidak ada yang aneh dari perilakunya, bahkan beliau ini cenderung sangat ramah. wajah nya bersih, badannya sehat. mari kita telusuri hal apakah yang membuat nyonya ini harus menginap di kurungan nyawa ini.

Yani di diagnosis mengalami bipolar, suatu gangguan berupa  yang menyerang kondisi psikis seseorang yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangat ekstrim berupa mania dan depresi, karena itu istilah medis sebelumnya disebut dengan manic depressive. Suasana hati penderitanya dapat berganti secara tiba-tiba antara dua kutub (bipolar) yang berlawanan yaitu kebahagiaan (mania) dan kesedihan (depresi) yang berlebihan tanpa pola atau waktu yang pasti.
Beliau bercerita bahwa beliau secara akademis orang yang sangat pintar dan berhasil menyelesaikan S2 nya. beliau juga memerlihatkan tulisan-tulisan tangannya berupa puisi dan curahan hatinya. kalimat-kalimatnya rapi dan bermakna dalam, bahkan saya rasa bahasa inggris beliau ini lebih baik dari saya..hehehe.. beliau ini mengatakan rindu dengan kedua keponakannya dan kakak2 nya. namun, beliau merasa ada beberapa oknum dari keluarganya yang tidak menyukainya. perlakuan negatif itu menurutnya justru membuat penyakitya semakin tidak terkendali. ahh.. mereka kan juga manusia :(

walaupun begitu, dia sadar dengan penyakitnya, dan dia selalu berusaha menemukan bahagia, ya sederhana sajalah, bercerita dengan koas2, hidup sederhana, berpikir sederhana, menulis, bercerita, olahraga. yaah standarnya untuk bahagia tidak muluk-muluk, berada tenang disana dengan perasaan tidak membahayakan orang dicintainya.. itu cukup :""
  
Pernahkah terpikir di jiwa kita bahwa bahagia itu sebetulnya ada digenggaman tangan kita?
Iya ditangan saya bukan ditangan siapa siapa, SIKAP NEGATIF saya terhadap suatu keadaanlah yang membuat saya tidak bahagia dan sebaliknya. :). Ternyata ada banyak hal yang membuat hidup saya tidak nyaman, salah satunya adalah kegemaran saya menyimpan ”memori-memori buruk”, “kenangan kenangan yang menyakitkan” jika otak bisa diibaratkan wadah penyimpanan yang akan kotor ketika kita mengisinya dengan sampah maka pahitlah hidup dan ketika “memori memori yang indah” yang saya izinkan mengisi otak saya maka akan indah, ketika kita mengisinya dengan warna padi yang mulai menguning, bunga mawar yang merekah merah maka indah tuh hidup saya, tapi ketika yang tersimpan adalah perbuatan tidak menyenangkan terhadap saya maka keruhlah.
Karena itu, kalau mau bahagia maka satu syarat adalah membersihkan kepala dari ”sampah-sampah” busuk. “Setuju kan sampai disini, lalu caranya gimana?” :)
Gini caranya: HARUS selalu berusaha mengingat kebaikan orang dan melupakan keburukannya. Saat orang lain menyakiti saya, maka saya akan mencari seribu satu alasan agar saya tidak membenci orang itu, saya harus mencari sejuta alasan untuk menyayanginya agar selalu ada yang indah yang melayang layang dijiwa saya, selalu mengingat kebaikannya dan PANTANG bagi saya mengabaikan seribu kebaikan orang, hanya karena satu keburukan yang boleh jadi tidak sengaja ia lakukan. Kan manusia tempatnya khilaf kan?

Jadi, segera lupakan semua perlakuan yang gak nyaman, Ibaratnya, kalau tinta mengotori muka, maka tindakan yang bijak adalah segera membersihkannya, bukan membiarkannya, atau menunjukkannya pada yang lain “lihat nih muka gue dicoret coret si itu tuh, jadi gue kaya gini” douh padahal tinggal di bersihin pake tisu basah udah cantik lagi, ALLAH saja maha menutup aib umatnya kenapa juga saya yang cuma manusia sibuk teriak perlakuan orang lain, kan membuka aib sendiri itu namanya bukan? Jadi jika ada yang menghina, memfitnah saya misalnya mending saya belajar bijak untuk segera menghapus, bukan memendamnya, membesar-besarkannya, atau menunjukkannya pada banyak orang tentang perlakukan sahabat saya, GAK PENTING NIH begini, emang mau apa kalau ALLAH marah dan membuka aib aib kita yang lain dan menghinakan kita, gak mau kan? makanya jangan main main dengan balasan ALLAH deh… :)
 
”Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku; dan mudahkanlah urusanku; dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku; agar mereka mengerti perkataanku.” (QS Thaahaa [20]: 25-28).
Mintalah kepada ALLAH untuk mengganti hati kita yang penuh sampah dengan hati yang baru yang penuh kasih sayang, hati yang pemaaf, hati yang jauh dari dendam, hati yang mengganti setiap luka dengan doa agar mereka termaafkan dan bahagia :) amin ya ALLAH.

Jadi, bahagia itu ada dalam genggaman kita bukan? syaratnya BUANG segala penyakit hati dan hiduplah dengan penuh kasih sayang, ALLAH itu maha lembut, maha penyayang, maha memaafkan :)