mati lampu mengandung hikmah :D

kabar-kabarnya mati lampu untuk daerah Lampung dan Palembang akan terjadi sampai tanggal 4 November nanti.. jadi inget dulu pernah nulis artikel di kala malam temaram gulita tanpa cahaya. tsaaaahh... berhubung batere laptop tinggal menunggu kematiannya dan otak beku tidak ada inspirasi, sesekali bermuhasabah dg membaca tulisan terdahulu, bolehlah.. hehehe


KETIKA GELAP TERASA INDAH..?

semoga tiap detik yang kita lalui, kita mampu menangkap hikmah dari Nya.. kontribusi diri maksimal dan berhenti menyia-nyiakan waktu,, ahh, rindu aku menulis.. (PLN hidupkanlah listriikkk, mau ngecharge laptoopp, trus nulis lagi! *yakin ta ? iya tah? InsyaAllah.. haha >.<)

HARMONI


Alhamdulillah, another part of my life began.. >,<
becoming a DOCTOR ! well, dengan embel-embel "muda " di belakangnya.. yang masih menandakan masih minusnya skill kita karena masih minimnya jam terbang ketemu pasien langsung. but you know ! it really excited ! hehe 

#first week ( masa orientasi )
euforia nya pindah dari masa pre klinik ke klinik masih jelas kerasa, wuihh rasanya happy banget bisa pake jas snelli warna putih mentereng *masih bau toko* di lorong-lorong rumah sakit (belakangan sadar, kalo sneli itu berat banget yah,, berat beban tanggung jawabnya.haha) . my first stase adalah stase anak,  karena sedang masa orientasi, kebiasaan stase ini adalah perkenalan atau operan dari dokter dan coass yang sebelumnya, sedikit banyak dapet cerita yang horor di stase ini baik penghuni yang nyata maupun tidak nyata nya. hahahaha... the most important point adalah coass harus tau karakter perseptor atau dokter-dokter konsulen yang akan kita hadapi. stase anak katanya paling detil kalo buat statusnya, paling objektif dokter-dokternya, paling capek mental, paling garang di stase mayor. selamat ya meta , mari kita buktikan kebenarannya ! well, like my brother said "welcome to the jungle !" .

#second week ( Ruang anak thalasemia dan hemofilia )
*hamdalah* stase pertama dimulai ditempat yang aktifitas nya teratur dan tidak terlalu padat. di bagian ini adalah tempatnya kita belajar nginfus, ganti infus, protokol transfusi darah dan pemeriksaan fisik sebanyak-banyaknya dan selengkap-lengkapnya. Pasien-pasiennya pun lebih pandai dari kita secara keterampilan selang menyelang dan transfusi, so, coass jangan sok pinter karena mereka adalah pemain lama yang emang rajin transfusi dari usia bayi sampai remaja. SALUUUUT...
disini saya bertemu dengan seorang perempuan yang  tampakk lebih muda dari usianya, senyum tawa sepertinya tidak pernah lepas dari mukanya , settingannya ceria banget deh mukanya.. but you know what,, dia punya 3 anak dari 5 orang anaknya dan cucu nya semua punya thalasemia :')) but, she always looks happy and spread their happiness to other patient.. disana saya belajar, untuk banyak bersyukur dan tersenyumlah ! orang lain tidak perlu tahu permasalahan kita dan sebarkan kebahagiaan pada orang lain karena kita tidak tahu atau mungkin tidak sadar senyum kita yang mana yang mampu menguatkan oranglain..
:):):)

kemudian saya bertemu dengan sisil (nama samaran) seorang pasien thalasemia yang masih sering berkomunikasi dengan saya lewat sms. ia berusia 17 tahun namun perawakannya seperti usia 12 tahun, jangan heran karena pasien-pasien thalasemia masih keliatan kayak anak-anak imut-imut karena mereka mengalami masalah pertumbuhan. Mungkin ada rasa "terbuang" dimana untuk anak remaja seusianya yang selayaknya bersekolah dan bercanda di kantin dengan teman-teman,tapi justru harus terhambat karena sakitnya. Tapi keikhlasannya yang luar biasa membuatnya mampu menghadapi penyakitnya dengan tidak berhenti berkarya, salah satu karyanya tertata manis di kamar saya. Ia pandai sekali membuat bunga dari plastik kresek atau kantong asoy hehehe.. aaah, Allah maha adil , tak pernah Ia berikan seseorang dengan kelemahan tanpa kelebihan. sisil pinter kecil-kecil udah bisa cari uang dari hasil prakarya nya. " sisil, hebat kamu dek.."

aah,tiba-tiba kehilangan kata-kata, tapi yang pasti di tiap-tiap raga yang sakit masing-masing mengandung cerita penuh hikmah, menyimpan kekuatan, membangkitkan inspirasi yang membuat saya mengerti hidup ini. Allah menciptakan harmoni yang begitu indah di balik sakit, sehat , duka maupun suka..

ada harap untuk kesembuhan, ada ikhlas menerima ujian, ada senyum dalam tangisan dan ada tangisan dalam senyuman. kebesaran hati mereka dan keluarga mereka menohok saya. Betapa kecilnya syukur ini dengan segala nikmat yang ALLAH berikan. 

terimakasih ya Allah, telah kau tunjukkan dan hadirkan harmoni untuk bisa saya nikmati bersama nafas yang Engkau titipkan dan dengan senyuman terindah.. saya akan berusaha untuk tidak mengeluh lagi..kuatkan saya ya Allah .. 



Inspiring mom

Ngopy dari grup saya di watsapp.. ceritanya menggetarkan dan bikin iriiiii...! :")

Namanya Ibu Septi Peni Wulandani. Kalau kalian search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Bukan, dia bukan seorang pejuang emansipasi wanita yang mengejar kesetaraan gender lalala itu. Bukan.

Beliau seorang ibu rumah tangga profesional, penemu model hitung jaritmatika, juga seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di Indonesia. Seorang wanita yang ingin mengajak wanita Indonesia kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya. Dalam sesi itu, beliau bercerita kiprahnya sebagai ibu rumah tangga yang mendidik tiga anaknya dengan cara yang bahasa kerennya anti mainstream. It’s like I’m watching 3 Idiots. But this is not a film. This is a real story from Salatiga, Indonesia.
Semuanya berawal saat beliau memutuskan untuk menikah. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa pernikahan adalah peristiwa peradaban, untuk kisah Ibu Septi, pepatah itu tepat sekali. Di usianya yang masih 20 tahun, Ibu Septi sudah lulus dan mendapat SK sebagai PNS. Di saat yang bersamaan, beliau dilamar oleh seseorang. Beliau memilih untuk menikah, menerima lamaran tersebut. Namun sang calon suami mengajukan persyaratan: beliau ingin yang mendidik anak-anaknya kelak hanyalah ibu kandungnya. Artinya? Beliau ingin istrinya menjadi seorang ibu rumah tangga. Harapan untuk menjadi PNS itu pun pupus. Beliau tidak mengambilnya. Ibu Septi memilih menjadi ibu rumah tangga. Baru sampai cerita ini saja saya sudah gemeteran.

Akhirnya beliaupun menikah. Pernikahan yang unik. Sepasang suami istri ini sepakat untuk menutup semua gelar yang mereka dapat ketika kuliah. Aksi ini sempat diprotes oleh orang tua, bahkan di undangan pernikahan mereka pun tidak ada tambahan titel/ gelar di sebelah nama mereka. Keduanya sepakat bahwa setelah menikah mereka akan memulai kuliah di universitas kehidupan. Mereka akan belajar dari mana saja. Pasangan ini bahkan sering ikut berbagai kuliah umum di berbagai kampus untuk mencari ilmu. Gelar yang mereka kejar adalah gelar almarhum dan almarhumah. Subhanallah. Tentu saja tujuan mereka adalah khusnul khatimah. Sampai di sini, sudah kebayang kan bahwa pasangan ini akan mencipta keluarga yang keren?
Ya, keluarga ini makin keren ketika sudah ada anak-anak hadir melengkapi kehidupan keluarga. Dalam mendidik anak, Ibu Septi menceritakan salah satu prinsip dalam parenting adalah demokratis, merdekakan apa keinginan anak-anak. Begitupun untuk urusan sekolah. Orang tua sebaiknya memberikan alternatif terbaik lalu biarkan anak yang memilih. Ibu Septi memberikan beberapa pilihan sekolah untuk anaknya: mau sekolah favorit A? Sekolah alam? Sekolah bla bla bla. Atau tidak sekolah? Dan wow, anak-anaknya memilih untuk tidak sekolah. Tidak sekolah bukan berarti tidak mencari ilmu kan? Ibu Septi dan keluarga punya prinsip: Selama Allah dan Rasul tidak marah, berarti boleh. Yang diperintahkan Allah dan Rasul adalah agar manusia mencari ilmu. Mencari ilmu tidak melulu melalui sekolah kan? Uniknya, setiap anak harus punya project yang harus dijalani sejak usia 9 tahun. Dan hasilnya?

Enes, anak pertama. Ia begitu peduli terhadap lingkungan, punya banyak project peduli lingkungan, memperoleh penghargaan dari Ashoka, masuk koran berkali-kali. Saat ini usianya 17 tahun dan sedang menyelesaikan studi S1nya di Singapura. Ia kuliah setelah SMP, tanpa ijazah. Modal presentasi. Ia kuliah dengan biaya sendiri bermodal menjadi seorang financial analyst. Bla bla bla banyak lagi. Keren banget. Saat kuliah di tahun pertama ia sempat minta dibiayai orang tua, namun ia berjanji akan menggantinya dengan sebuah perusahaan. Subhanallah. Uang dari orang tuanya tidak ia gunakan, ia memilih menjual makanan door to door sambil mengajar anak-anak untuk membiayai kuliahnya.
Ara, anak ke-2. Ia sangat suka minum susu dan tidak bisa hidup tanpa susu. Karena itu, ia kemudian berternak sapi. Pada usianya yang masih 10 tahun, Ara sudah menjadi pebisnis sapi yang mengelola lebih dari 5000 sapi. Bisnisnya ini konon turut membangun suatu daerah.
WOW! Sepuluh tahun gue masih ngapain? Dan setelah kemarin kepo, Ara ternyata saat ini juga tengah kuliah di Singapura menyusul sang kakak.

Elan, si bungsu pecinta robot. Usianya masih amat belia. Ia menciptakan robot dari sampah. Ia percaya bahwa anak-anak Indonesia sebenarnya bisa membuat robotnya sendiri dan bisa menjadi kreatif. Saat ini, ia tengah mencari investor dan terus berkampanye untuk inovasi robotnya yang terbuat dari sampah. Keren!
Saya cuma menunduk, what I’ve done until my 20? :0 Banyak juga peserta yang lalu bertanya, “kenapa cuma 3, Bu?” hehe.
Dari cerita Ibu Septi sore itu, saya menyimpulkan beberapa rahasia kecil yang dimiliki keluarga ini, yaitu:

1. Anak-anak adalah jiwa yang merdeka, bersikap demokratis kepada mereka adalah suatu keniscayaan

2. Anak-anak sudah diajarkan tanggung jawab dan praktek nyata sejak kecil melalui project. Seperti yang saya bilang tadi, di usia 9 tahun, anak-anak Ibu Septi sudah diwajibkan untuk punya project yang wajib dilaksanakan. Mereka wajib presentasi kepada orang tua setiap minggu tentang project tersebut.

3. Meja makan adalah sarana untuk diskusi. Di sana mereka akan membicarakan tentang ‘kami’, tentang mereka saja, seperti sudah sukses apa? Mau sukses apa? Kesalahan apa yang dilakukan? Oh ya, keluarga ini juga punya prinsip, “kita boleh salah, yang tidak boleh itu adalah tidak belajar dari kesalahan tersebut”. Bahkan mereka punya waktu untuk merayakan kesalahan yang disebut dengan “false celebration”.

4. Rasulullah SAW sebagai role model. Kisah-kisah Rasul diulas. Pada usia sekian Rasul sudah bisa begini, maka di usia sekian berarti kita juga harus begitu. Karena alasan ini pula Enes memutuskan untuk kuliah di Singapura, ia ingin hijrah seperti yang dicontohkan Rasulullah. Ia ingin pergi ke suatu tempat di mana ia tidak dikenal sebagai anak dari orang tuanya yang memang sudah terkenal hebat.

5. Mempunyai vision board dan vision talk. Mereka punya gulungan mimpi yang dibawa ke mana-mana. Dalam setiap kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, mereka akan share mimpi-mimpi mereka. Prinsip mimpi: Dream it, share it, do it, grow it!

6. Selalu ditanamkan bahwa belajar itu untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari nilai

7. Mereka punya prinsip harus jadi entrepreneur. Bahkan sang ayah pun keluar dari pekerjaannya di suatu bank dan membangun berbagai bisnis bersama keluarga. Apa yang ia dapat selama bekerja ia terapkan di bisnisnya.

8. Punya cara belajar yang unik. Selain belajar dengan cara home schooling di mana Ibu sebagai pendidik, belajar dari buku dan berbagai sumber, keluarga ini punya cara belajar yang disebut Nyantrik. Nyantrik adalah proses belajar hebat dengan orang hebat. Anak-anak akan datang ke perusahaan besar dan mengajukan diri menjadi karyawan magang. Jangan tanya magang jadi apa ya, mereka magang jadi apa aja. Ngepel, membersihkan kamar mandi, apapun. Mereka pun tidak meminta gaji. Yang penting, mereka diberi waktu 15 menit untuk berdiskusi dengan pemimpin perusahaan atau seorang yang ahli setiap hari selama magang.

9. Hal terpenting yang harus dibangun oleh sebuah keluarga adalah kesamaan visi antara suami dan istri. That’s why milih jodoh itu harus teliti. Hehe. Satu cinta belum tentu satu visi, tapi satu visi pasti satu cinta

10. Punya kurikulum yang keren, di mana fondasinya adalah iman, akhlak, adab, dan bicara.

11. Di-handle oleh ibu kandung sebagai pendidik utama. Ibu bertindak sebagai ibu, partner, teman, guru, semuanya.
Daaaan masih banyak lagi. Teman-teman yang tertarik bisa kepo twitter ibu @septipw atau gabung dan ikut kuliah online tentang keiburumahtanggaan di ibuprofesional.com.

Hhhhmmm. Gimana? Profesi ibu rumah tangga itu profesi yang keren banget bukan? Ia adalah kunci awal terbentuknya generasi brilian bangsa. Saya ingat cerita Ibu Septi di awal kondisi beliau menjadi ibu rumah tangga. Saat itu beliau iri melihat wanita sebayanya yang berpakaian rapi pergi ke kantor sedangkan beliau hanya mengenakan daster. Jadilah beliau mengubah style-nya. Jadi Ibu rumah tangga itu keren, jadi tampilannya juga harus keren,
bahkan punya kartu nama dengan profesi paling mulia: housewife. So, masih zaman berpikiran bahwa ibu rumah tangga itu sebatas sumur, kasur, lalala yang haknya terinjak-injak dan melanggar HAM? Duh please,  housewife is the most presticious  career for a woman, right? Tapi semuanya tetap pilihan. Dan setiap pilihan punya konsekuensi  Jadi apapun kita, semoga tetap menjadi pendidik hebat untuk anak-anak bangsa

Wallahualambisshawab. Semoga ada yang bisa diambil pelajaran.

Karena sebaik2 nya manusia adalah yg paling bermanfaat. Semoga menginspirasi.. kalopun inspirasinya bukan datang dari saya paling tidak saya menjadi tangannya si pemberi inspirasi. Hhe.. sekalian sapu2 ladang hikmah..

Growing


Lagi iseng kepengen nge post sesuatu . sudah lama tidak mengetukkan jari jemari tuts-tuts laptop dan sekedar berbagi hikmah dan sharing ringan tentang apa yang saya alami dan hikmah apa yang saya dapat tangkap..HAP ! hehehe

selama di palembang, saya seperti masuk ke dalam mesin waktu doraemon dan membuka memori-memori lama saya. terutama masa- masa saya SMA. terlebih saya kembali di pertemukan dengan teman- teman "kriminal" saya selama SMA dulu. hihi.. ( tidak perlu diceritakan betapa banyak hal hal horor yang kami lakukan dan serunya masa2 SMA saya dulu ya :p ).

kini kami bertemu bukan dalam rangka buka bersama puasa atau reuni yang secara khusus dirancang, melainkan di acara-acara pernikahan. ah, time goes fast :").. usia kami menua dan penampilan kami pun berbeda tidak lagi putih abu-abu atau batik biru abu-abu, melainkan hitam putih kuning coklat full colour :D, yang dulunya belum berhijab kini sudah anggun dengan hijabnya. yang pria makin gagah dan yang wanita makin pandai menggunakan eyeliner. haha... dulu kita pasti cari tempat makan termurah dan tunjuk-tunjukkan minta ditraktir atau sumsuman buat makan-makan, sekarang mah beda.. berdiri depan kasir, eh udah dibayar (hehe ;p) dan serunya lagi ketika kami saling berkirim foto saat masih unyu-unyu. tak kuasa menahan tawa namun haru serta sedih juga menyergap di dinding dada.. ah. kami telah beranjak dewasa..

tapi saya yang cengeng ini apa sudah bisa dibilang dewasa ?
pertanyaan ini kerap muncul, bukan karena kecengengan saya saja, tapi saya kerap tidak mampu mengetahui letak kesalahan saya sebelum ada yang menunjukkan dimana letak itu. ke tidak mampuan saya menata langkah saya, hingga saya sering merasa diam di tempat sementara yang lain telah jauh berlari. ketidak mampuan saya untuk bertanggung jawab penuh terhadap komitmen dan amanah, dan ke tak berdayaan saya untuk bangkit sendiri ketika dihempas badai ujian. rasanya pengen teriak dan bilang "please, ajari saya menjadi dewasa!" :'D

dan ternyata saya hanya manusia biasa yang terus belajar dewasa..
Irhamna Ya Allah, hati ini seringkali sombong merasa paling benar, mudah ujub dan riya, kekanak-kanakan, ingin selalu diperhatikan, tidak peduli sekitar dan cengeng.. izin kan saya terus belajar dari tiap ujian nikmat dan ujian penat yang kau titipkan, hingga saya kembali tersadar bahwa bukan melihat besar kecil ujiannya namun seberapa mampu dan bagaimana menyikapi ujian itu lebih penting. sejauh mana hati ini menggantungkan harapan kepada-Nya saja, sebesar apa keikhlasan ini dan seyakin apa kita dengan ke-Maha-anNya.

lautan nikmat membuat kita terlena , lilitan masalah membuat kita menjauh dari Allah. hamba macam apa saya ini? :")

bila tak mampu berlari, berjalanlah
bila tak sanggup berjalan, merangkaklah..
yang terpenting bagaimana kita menyadari bahwa meskipun dalam keadaan merangkak, berjalan , maupun berlari, langkah kita selalu menuju Allah meskipun jalanan sedang menukik turun maupun menanjak naik, hanya untuk meraih cinta-Nya Allah.. 

Berani !  karena Allah :)